Senin, 19 Mei 2008

Ada apa dibalik Tragedi Monas

Oleh: Moch Ichlas

Belum genap empat bulan yang lalu rakyat Indonesia dikhianati oleh kebijakan pemimpinnya sendiri, yang dengan sengaja menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Pemerintah beralasan bahwa kenaikan ini tidak terlepas dari dampak kenaikan harga minyak dunia dan alasan internal bahwa APBN untuk tahun ini devisit. Kebijakan ini terlihat ketika SBY mengumpulkan beberapa punggawanya untuk merencanakan pemberian BLT (Bantuan Langsung Tunai)yang disiapkan bagi masyarakat tidak mampu dalam menjalani dampak kenaikan harga BBM tersebut. Dan tepat pada tanggal 23 Mei kemarin dibawa koordinasi menteri keuangan dan menteri ESDM mewakili pemerintah mengumumkan kebijakan kenaikan BBM. Pro-kontra atas kebijakan ini merebah sampai ke daerah-daerah. Hampir semua elemen di masyarkat dari buruh sampai ke tingkatan gerakan mahasiswa turun ke jalan menentang kebijakan pemerintah SBY-JK. Pada subtansinya kenaikan harga BBM ini akan berdampak luas di semua lini kehidupan masyarakat. Sembako, tranportasi, dan kebutuhan primer lainnya mahal tidak bisa di kendalikan lagi.Main-mainnya SBY-JK menanggapi gejolak kenaikan harga BBM ini menjadikan “Catatan buruk” yang dilakukannya. Tindakan aparat keamanan yang makin refresif terhadap mahasiswa yang melakukan aksi penolakan kenaikan BBM yang berakhir dengan insiden di mana-mana. Dan cukup mencoreng kejelekan aparat keamanan pada insiden shubuh di UNAS Jakarta, di mana mereka masuk ke dalam kampus yang notabene adalah lingkungan pendidikan menindak semena-mena terhadap mahasiswa di sana. Belum lagi kebijakan yang memberikan beasiswa atau bantuan langsung untuk mahasiswa. Seakan-akan SBY-JK mengganggap Mahasiswa sebagai anak kecil yang gampang di berikan permen atau hadiah kalau sedang menangis lalu diam.Manuver pamungkas yang coba dilakukan untuk menutupi kesalahan pemerintah SBY-JK dalam kebijakan kenaikan harga BBM adalah bagaimana membangun konflik horisontal di masarakat. Dan tragedi Monas kemarin membuktikan bahwa pemerintah merekayasa konflik tersebut. Indikasinya ketika JK mengeluarkan statmen bahwa gejolak penolakan kenaikan harga BBM akan berakhir satu Juni di salah satu media informasi. Konflik horisontal ini dibangun agar masyarakat luput untuk memberikan tekanan terhadap pemerintah. Kalau kita tela’ah lebih jauh akar permasalahan dari insiden tersebut. Pertama ketidakjelasan pemerintah terhadap gerakan Ahmadiyah, tarik-ulur SKB yang sampai saat ini belum jelas intinya. Kedua, membiarkan gerakan garis keras yang mengatasnamakan agama, dan ketiga pemerintah tidak tegas dalam aspek hukum dalam menindak pelanggaran hukum yang terjadi sampai saat ini. Beberapa point ini yang secara leluasa menjadikan ‘bom waktu’ yang di siapkan sewaktu-waktu untuk menutupi hal-hal yang sangat bertentangan dengan rakyat.Sia-sia sudah fresur penolakan yang lakukan oleh mahasiswa maupun masyarakat hari ini terhadap kenaikan harga BBM. Karena kita sudah di sibukkan kembali dengan konflik-konflik horizontal yang tanpa disadari semuanya adalah rekayasa yang dibuat oleh pemerintah itu sendiri. Masyarakat seharusnya bisa lebih paham dengan belajar terhadap kebijakan masa lalu yang hampir setiap kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan rakyat pasti ada gejolak penutupnya.Gerakan mahasiswa seharus tetap konsisten dan jangan mau terpengaruh terhadap gejolak yang ada. Gerakan mahasiswa adalah OPOSISI ABADI… salam perjuangan.. * Sekbid. Pergerakan Muda Islam Indonesia *

Sabtu, 17 Mei 2008

____ennn......Mana yang lebih enak, jadi rakyat atau wakil rakyat? Canda seorang kawan selesai melantik calon kader ormas (organisai mahasiswa) beberapa hari lalu. Melihat saya bengong, pertanyaan itu dijawab sendiri oleh sang kawan, enak jadi rakyatlah. Kalau menjadi wakil, maka Anda harus menunggu rakyatnya berhenti dulu baru Anda bisa menjadi rakyat. Bila rakyatnya tidak berhenti, maka selamanya Anda akan tetap saja menjadi wakil, kasihan kan?
____Kawan saya sungguh-sungguh bercanda, tidak bermaksud lain. Dalam bahasa Indonesia memang tidak dibedakan penulisan "Wakil Direktur" dengan "Wakil Rakyat". Orang asing yang baru belajar bahasa Indonesia pasti susah menterjemahkannya. Direktur adalah kata benda, rakyat juga kata benda. Kedua kata ini didahului oleh kata yang sama yakni "wakil". Maka logikanya arti kata "wakil" di sini mestinya sama, tapi ternyata berbeda jauh. Namun baiklah, itu agaknya masalah semantik struktural, biarlah menjadi urusan ahli bahasa. Yang jelas wakil direktur dan wakil rakyat tentu berbeda maknanya. Kalau ditulis dalam bahasa "bule", wakil direktur akan berbunyi voice director sedangkan wakil rakyat mereka sebut representative of the people
____Namun kali ini saya ngak akan ngebahas lebih jauh tentang definisi wakil rakyat. tapi saya akan membahas lebih jauh tentang satu kata yang kadang menjadi pragmatis ketika kita membahasnya, yaitu pengandaian. Seandainya saya menjadi wakil rakyat....yang pertama saya tulis dalam program kerja saya adalah . . . membatasi layanan sms yang sedikit beraroma kapitalisme. contoh nyatanya
Ketik reg spasi nama Ustad dan kirimkan ke bla bla bla untuk mendapatkan kata kata bijak dari sang Ustad, bahkan sampai sampai Kitab Suci umat Islam yang diperdagangkan dengan model perampokan pulsa. Tarif yang diatas normal harusnya membuat kita berfikir dua kali untuk melakukannya.
____Saya bukannya anti dengan metode dakwah yang modern, namun menurut saya adalah lebih baik jika para cendikiawan dan hartawan Muslim bersatu padu untuk memajukan pola pikir umat Islam di negeri ini dengan cara cara yang lebih baik. Misalnya, daripada ceramah atau tips atau nasehat dari para ulama diperdagangkan lewat sms dan umat ini harus BAYAR MAHAL untuk mendapatkannya, tambahan lagi bahwa fasilitas ini hanya bisa dinikmati oleh ponsel ponsel mahal, ponsel butut model simeent s55 saya mana bisa. Kenapa ga bersama sama mendirikan sekolah Islam modern untuk rakyat? Daripada membentuk modal usaha Al Qur’an seluler yang diperdagangkan dengan harga mencekik, lebih baik mendatangkan para pengajar pengajar berkualitas untuk sekolah sekolah Islam yang banyak bertebaran di negeri ini, atau mendidik para pemuda pemuda Islam yang memang berfikiran maju, serta bertekad kuat untuk memajukan Islam untuk lebih modern dan mengenal peradaban dan tekhnologi, mereka perlu diberi kursus dan akses internet gratis, diajarkan cara membuat blog Islami, diajarkan mencari referensi dari belahan dunia lain biar tau luasnya dunia, diajarkan cara membuat Al Qur’an digital, blog Islami, diajarkan media baru untuk berdebat dan bertukar pikiran, serta mengemukakan pendapat dengan otak, bukan dengan emosi.
____Kemana perginya para Muslimin dan Muslimah berduit di negara ini? Yang saya tau cuma satu, yaitu ibu yang membuat Mesjid megah dengan lapisan emas disekujur Mesjid, dengan lantai keramik nomor satu dari Italia (kalau ga salah). Yang lainnya? Ke luar negeri? Kenapa? Negara ini membutuhkan kalian wahai saudara saudara ku seiman, sebangsa dan setanah air! Teganya kalian berangkat Haji dengan acara pelepasan dan penyambutan yang bermegah megah, sementara di negara kalian tercinta masih banyak saudara kalian yang butuh operasi atas penyakitnya yang parah dan perlu biaya yang tidak sedikit untuk kesembuhannya. Ingatlah saudara saudara kalian yang butuh makan, dan butuh dilindungi dari gangguan orang orang kafir dan misionaris bertangan hitam. Saat membuat sekolah Islam modern, teganya kalian yang mendirikan sekolah Islam yang membebani saudara kalian dengan iuran pendidikan yang lebih mahal daripada sekolah negeri. Kalau begitu apa bedanya kalian dengan kaum kafir kapitalis?
____Sudah ah, saya bukan ahlinya dalam hal ini. Dan satu lagi harapan saya jika pada satu saat nanti saya menjadi wakil rakyat maka saya akan mengkolaborasikan daya (kekuatan) dari kaum muslimin dan muslimah yang "mampu",untuk membangun media elektronik maupun cetak yang bisa menjadi ajang pendidikan, pencerahan, dan pemersatu umat Islam? karena tanpa kita sadari dan tidak bisa kita pungkiri bahwa media adalah salah satu alat paling penting dalam pembangunan fisik maupun mental bangsa ini.