Sabtu, 17 Mei 2008

____ennn......Mana yang lebih enak, jadi rakyat atau wakil rakyat? Canda seorang kawan selesai melantik calon kader ormas (organisai mahasiswa) beberapa hari lalu. Melihat saya bengong, pertanyaan itu dijawab sendiri oleh sang kawan, enak jadi rakyatlah. Kalau menjadi wakil, maka Anda harus menunggu rakyatnya berhenti dulu baru Anda bisa menjadi rakyat. Bila rakyatnya tidak berhenti, maka selamanya Anda akan tetap saja menjadi wakil, kasihan kan?
____Kawan saya sungguh-sungguh bercanda, tidak bermaksud lain. Dalam bahasa Indonesia memang tidak dibedakan penulisan "Wakil Direktur" dengan "Wakil Rakyat". Orang asing yang baru belajar bahasa Indonesia pasti susah menterjemahkannya. Direktur adalah kata benda, rakyat juga kata benda. Kedua kata ini didahului oleh kata yang sama yakni "wakil". Maka logikanya arti kata "wakil" di sini mestinya sama, tapi ternyata berbeda jauh. Namun baiklah, itu agaknya masalah semantik struktural, biarlah menjadi urusan ahli bahasa. Yang jelas wakil direktur dan wakil rakyat tentu berbeda maknanya. Kalau ditulis dalam bahasa "bule", wakil direktur akan berbunyi voice director sedangkan wakil rakyat mereka sebut representative of the people
____Namun kali ini saya ngak akan ngebahas lebih jauh tentang definisi wakil rakyat. tapi saya akan membahas lebih jauh tentang satu kata yang kadang menjadi pragmatis ketika kita membahasnya, yaitu pengandaian. Seandainya saya menjadi wakil rakyat....yang pertama saya tulis dalam program kerja saya adalah . . . membatasi layanan sms yang sedikit beraroma kapitalisme. contoh nyatanya
Ketik reg spasi nama Ustad dan kirimkan ke bla bla bla untuk mendapatkan kata kata bijak dari sang Ustad, bahkan sampai sampai Kitab Suci umat Islam yang diperdagangkan dengan model perampokan pulsa. Tarif yang diatas normal harusnya membuat kita berfikir dua kali untuk melakukannya.
____Saya bukannya anti dengan metode dakwah yang modern, namun menurut saya adalah lebih baik jika para cendikiawan dan hartawan Muslim bersatu padu untuk memajukan pola pikir umat Islam di negeri ini dengan cara cara yang lebih baik. Misalnya, daripada ceramah atau tips atau nasehat dari para ulama diperdagangkan lewat sms dan umat ini harus BAYAR MAHAL untuk mendapatkannya, tambahan lagi bahwa fasilitas ini hanya bisa dinikmati oleh ponsel ponsel mahal, ponsel butut model simeent s55 saya mana bisa. Kenapa ga bersama sama mendirikan sekolah Islam modern untuk rakyat? Daripada membentuk modal usaha Al Qur’an seluler yang diperdagangkan dengan harga mencekik, lebih baik mendatangkan para pengajar pengajar berkualitas untuk sekolah sekolah Islam yang banyak bertebaran di negeri ini, atau mendidik para pemuda pemuda Islam yang memang berfikiran maju, serta bertekad kuat untuk memajukan Islam untuk lebih modern dan mengenal peradaban dan tekhnologi, mereka perlu diberi kursus dan akses internet gratis, diajarkan cara membuat blog Islami, diajarkan mencari referensi dari belahan dunia lain biar tau luasnya dunia, diajarkan cara membuat Al Qur’an digital, blog Islami, diajarkan media baru untuk berdebat dan bertukar pikiran, serta mengemukakan pendapat dengan otak, bukan dengan emosi.
____Kemana perginya para Muslimin dan Muslimah berduit di negara ini? Yang saya tau cuma satu, yaitu ibu yang membuat Mesjid megah dengan lapisan emas disekujur Mesjid, dengan lantai keramik nomor satu dari Italia (kalau ga salah). Yang lainnya? Ke luar negeri? Kenapa? Negara ini membutuhkan kalian wahai saudara saudara ku seiman, sebangsa dan setanah air! Teganya kalian berangkat Haji dengan acara pelepasan dan penyambutan yang bermegah megah, sementara di negara kalian tercinta masih banyak saudara kalian yang butuh operasi atas penyakitnya yang parah dan perlu biaya yang tidak sedikit untuk kesembuhannya. Ingatlah saudara saudara kalian yang butuh makan, dan butuh dilindungi dari gangguan orang orang kafir dan misionaris bertangan hitam. Saat membuat sekolah Islam modern, teganya kalian yang mendirikan sekolah Islam yang membebani saudara kalian dengan iuran pendidikan yang lebih mahal daripada sekolah negeri. Kalau begitu apa bedanya kalian dengan kaum kafir kapitalis?
____Sudah ah, saya bukan ahlinya dalam hal ini. Dan satu lagi harapan saya jika pada satu saat nanti saya menjadi wakil rakyat maka saya akan mengkolaborasikan daya (kekuatan) dari kaum muslimin dan muslimah yang "mampu",untuk membangun media elektronik maupun cetak yang bisa menjadi ajang pendidikan, pencerahan, dan pemersatu umat Islam? karena tanpa kita sadari dan tidak bisa kita pungkiri bahwa media adalah salah satu alat paling penting dalam pembangunan fisik maupun mental bangsa ini.

Tidak ada komentar: