Senin, 04 Februari 2008

Catatan Seorang Mahasiswa

Oleh : Moch Ichlas


DEKADENSI MORAL MAHASISWA

5 hari yang lalu atau tepatnya tanggal 27 januari 2008 bangsa Indonesia digemparkan oleh satu setegment dokter kepresidenan tentang wafatnya jendral besar H Mochammad Soeharto kedepan public. Sedih, senang, gembira, berkecambuk menjadi satu seakan menjadi paramoya kehidupan bangsa ini Under estimede yang cukup berlebihan tentang figur seorang mantan presiden RI ke2 sampai titik dimana dia pulang ke rahmatllah dimata mayoritas bangsa indonesia terlihat sangat jelas, mungkin pada satu sisi hal seperti ini tidak dapat kita salahkan ataupun sebaliknya.

Ironis adalah sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan moral mayoritas bangsa ini yang belum bisa menghargai jasa para pahlawan yang tersurat maupun tersirat dalam setiap perjuangan. Hilir mudik pergerakan manusia telah menghilangkan sebuah nilai nurani dan jiwa pada tempat yang seharusnya.

Setegment diatas Bukan hanya saya ada didalam segelintir orang mengagumi soeharto Namun lebih dari itu, sebagai anak bangsa yang peduli akan nilai nurani dan jiwa, sudah seharusnya bangsa ini berfikir dewasa dan objektif menyikapi apapun persoalan negeri ini termasuk kasus soeharto.

Terkadang banyak hal yang sudah tidak bisa lagi dimasukkan ke dalam aras pemikiran sehat. Semua akhirnya bermuara pada bilangan aku suka dan aku benci. Masih sangatlah jauh untuk melihat yang berada pada kisaran aku suka dan aku tak benci. Kaidah nilai sesungguhnya telah dihilangkan dalam sebuah perjalanan napas kehidupan. Berada dalam sebuah kefatamorganaan, dan juga dalam sebuah permukaan keping mata uang.

Mungkin ini harus tetap terjadi, hingga semua telah bosan untuk saling berkata benci. Mungkin ini harus tetap terjadi, hingga bangsa ini lelah untuk mengacuhkan jasa-jasa pahlawan. Mungkin ini harus tetap terjadi, hingga semua telah kehabisan keringat, air mata dan darah [...]

- The end -


Tidak ada komentar: